dipelosok desa

maam begitu sunyi, hanya terengar hembusan angin dan suara layang layang yang bernyanyi diatas sana. aku keluar rumah dan menyaksikannya betebaran dilangit itemani jutaan bintang yang indah nan menawan. aku selalu bersyukur dilahirkan didesa ini,  selatan bagian ponorogo. banyak yang mengaggap sebelah mata emang, jauh dari riuh keramaian kota dan yah bisa dibilang bukan hal mudah untuk mencari benwit untuk pesbukan.
sekli lagi aku tetp bersyukur dengan semua yang tuhan rencanakan.
mulai setahun kemarin kewajiban untuk menuntut ilmu mengharuskan saya untuk menetap dikota, dengan kehidupan yang berbeda dan seuanya berbeda, tapi itu bukan menjadi masalah untuk soal adaptasi karena saya terlalu biasa membaur dengan mereka.suasana rame, panas dan penuh riuh pikuk glamor menjadi tontonan sehari hari, berbeda dengan didesa.
sudah lama aku terlalu sibuk diseberang kota sana, dengan beberapa kegiatan yang harus saya kerjakan demi pengalaman melalangbuana sehingga aku lupa akan kedamaian dan kehangatan keluargaku didesa. tadi pagi menerima sms dari ibu, "kok krasanmen neng madiun to mas?" karena belum membeli pulsa aku tidak bisa membalas segelintir pesan darinya. sore haripun aku pulang, padahal besuk malam masih ada urusan. tak apalah, aku juga kangen kampung halaman.
sampai rumah langsung makan, bukan karna kelaparan tapi lebih menghargai masakan yang dihidangkan dan aku menikmatinya sampai akhirnya tibalah malam sebelum aku menuliskan ini. betapa sunyi desa ini, masih asri dan ah aku menemukan kedamaian yang sudah lama tidak kurasakan.
dipelosok desa ini aku dilahirkan dan disini pula aku dibesarkan. malam ini dan selamanya

4 Responses to dipelosok desa

  1. di pelosok desa tidak akan sama dengan di pelosok kota,,rasanya pun sangat nyaman...

    BalasHapus
  2. Tapi tetap lebuh nyaman di pelosok desa dari pada ki kota.

    BalasHapus
  3. wuish bagus tuh buat refreshing !

    BalasHapus