Dendam

Sekarang, aku sedang di dapur. Menikmati segelas kopi sambil menemani mbah yang sedang ngirisi sayur buat dimasak. Oh iya, tak lupa ditemenin alunan lagunya nosstress.
Sesekali balas chat Shinta, sesekali nyruput kopi, sambil dengerin mbah bercerita tentang dahulu kala, tentang masa kecilku yang aku selalu menganggap baik-baik saja dan bahagia.
Kenakalan masa kecilku, cara mendidik ayahku yang (mungkin) menurutnya benar. Ya maklum, orang tuaku tidak mengenyam pendidikan dasar tentang pendidikan anak sepertiku.
Ah, selain kebahagiaan atas keluargaku yang asik, masih juga terbesit sakit-sakit jaman dulu. Hihi, aku anak bodoh yang pernah naik kelas saat SD menjadi cadangan. Piye ceritane kui? Aku pernah menjadi obyek perbandingan atas saudara-saudaraku, aku pernah merasa tak berguna karena selalu terbelakang dibidang yang unggul diantara saudara dan sepupuku.
Beranjak dewasa, aku lebih banyak berontak. Aku semakin yakin untuk berjalan diatas jalan yang kupilih. Aku menikmati dan lebih bisa membuktikan bahwa aku juga anak, saudara, dan teman yang bisa dibanggakan.
Dendam masalalu!! Aku menyebutnya begitu. Bagiku, semua luka masalalu adalah sebuah dendam yang baik, sebuah motivasi untuk membuktikan bahwa aku bisa.
Semoga Tuhan selalu berbaik hati sama orang yang tak pandai sepertiku.

0 Response to Dendam

Posting Komentar